Jalur Pendakian Gunung Salak

Sejarah Gunung Salak

Secara administratif, Gunung Salak terletak di wilayah Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor. Gunung ini mempunyai beberapa puncak, diantaranya adalah puncak Salak I yang mempunyai ketinggian 2.111 mdpl. Sedangkan, yang satu lagi adalah Puncak Salak II yang mempunyai ketinggian 2.280 mdpl.

Jika orang yang belum tau banyak tentang Gunung Salak, mungkin mereka mengira bahwa nama gunung ini diambil dari buah salak, itu adalah perkiraan yang salah. Sebenarnya, nama gunung ini diambil dari bahasa Sangsakerta “Salaka” yang mempunyai perak. Gunung ini adalah gunung berapi yang masih aktif. Tahun 1938 merupakan letusan terakhir gunung ini, pada saat itu letusan berupa erupsi freatik yang terjadi di kawah Cikuluwung Putri.

Jalur Pendakian Gunung Salak

Untuk mendaki Gunung Salak, kamu bisa memilih beberapa jalur pendakian. Terdapat dua tujuan untuk mendaki, yaitu puncak I dan Puncak II. Kamu bisa mendaki lewat arah Cimelati, Cidahu dan kawah Ratu Gunung Bender untuk menuju puncak I.

Jika ingin melakukan pendakian, sebaiknya kamu melakukannya pada musim kemarau. Sebab, kalur pendakian pada musik kemarau anginnya tidak terlalu kencang, jarang ada lintah atau pacet dan medannya tidak terlalu becek.

Untuk lebih jelasnya, pendakian Gunung Salak ini bisa melalui beberapa pilihan alternatif, diantaranya Jalur Cidahu (Sukabumi), Jalur Pasir Reungit, Jalur Giri, Jaya (Curug Pilung) dan Jalur Cimelati / Kutajaya

1. Jalur Cidahu

Salah satu jalur yang cukup favorit dijadikan jalur pendakian menuju puncak Gunung Salak oleh pendaki adalah Wana Wisata Cangkuang, kecamatan Cidahu, kabupaten Sukabumi. Jika dari jakarta dan ingin menuju tempat ini, kamu bisa menggunakan bus jurusan Sukabumi atau kereta api dari stasiun Bogor menuju Sukabumi, turun di stasiun Cicurug. Kemudian disambung dengan angkutan umum jurusan Cidahu.

Dari tempat itu terdapat dua jalur pendakian, yaitu jalur utama yang menuju puncak I serta jalur baru yang menuju Kawah ratu. Tempat Wana Wisata Cangkuriang sering digunakan pendaki menuju Kawah ratu dan juga digunakan sebagai tempat perkemahan dengan pemandangan air terjun yang begitu menakjubkan. Dari jalur Wana Wisata ini pula, para pendaki bisa menuju Puncak Salak I.

Di gerbang pintu Wana Wisata Cangkuang terdapat tempat yang sangat nyaman untuk berkemah. Selain itu, terdapat juga banyak warung makanan. Jika ingin menuju puncak Gunung Salak I dari jalur ini, maka para pendaki membutuhkan waktu sekitar 8 jam perjalanan. Sedangkan, jika ingin menuju Kawah Ratu, maka para pendaki membutuhkan waktu sekitar 3-5 jam perjalanan.

Jika dari perkemahan dan akan menuku Shelter III, maka jalur yang dilewati cukup curam, basah dan lembab. Apalagi jika musim hujan tiba, jalur ini sangat curam dan licin. Namun, para pendaki cukup tertolong oleh akar-akar pohon. Di Shelter ini juga terdapat tempat yang cukup luas untuk mendirikan tenda dengan pemandangan hutan tropis yang lebat dan terdapat pula sebuah sungai yang airnya sangat jernih.

Saat memasuki Shelter IV, jalur pendakian semakin curam yang berupa tanah merah. Di sebagian lokasi, kamu akan melewati beberapa lokasi becek sedalam dengkul kaki. Di jalur ini juga, para pendaki akan melewati dua buah sungai yang mempunyai air yang sangat jernih. Jika melakukan pendakian lewat jalur ini, sebaiknya kamu mengambil air jernih yang ada di sini. Sebab, jika musim kemarau tiba, sungai ini merupakan sumber air bersih terakhir yang bisa kamu temukan.

Shelter IV adalah persimpangan jalan. Jika ingin sampai ke puncak Gunung Salak, kamu harus mengambil jalan ke arah kanan. Sedangkan jika ingin sampai ke Kawah ratu, kamu harus mengambil jalan ke arah kiri. Kamu bisa mendirikan tenda di Shelter IV ini. Sebab, memiliki dataran yang datar dan cukup luas.

Menuju Puncak Gunung Salak

Puncak Indah di Gunung Salak
theindonesiadventurer.wordpress.com

Waktu yang dibutuhkan dari Shelter III menuju Shelter IV adalah sekitar 1 jam. Dalam perjalanannya, kamu akan melewati akar-akar pohon yang tertutup tanah lunak. Jika tidak hati-hati kamu bisa terperosok dibuatnya. Dari lokasi ini, kamu bisa melihat dengan jelas Kawah Ratu. Setelah melintasi sungai kecil dan area yang sangat luas, kamu bisa berbelok ke arah kanan. Selanjutnya kamu bisa berjalan ke arah kiri mengikuti pagar-pagar kawat yang berduri.

Jalur menuju puncak ini mempunyai medan yang sangat smpit, agak licin, curam dan juga mempunyai sedikit turunan. Pada sisi kanan dan kiri jalan terdapat jurang yang curang serta dalam. Jalur ini ditutupi oleh pohon dan rumput. Saat satu jam melewati jalur ini, para pendaki akan melewati bebatuan dan akar-akar pepohonan.

Sampai di Shelter V, di jalur ini sedikit menurun kemudian kembali akan menanjak tajam. Para pendaki harus bisa memanjat tebing dengan bebatuan yang curam. Saat berhasil melewati Shelter V, maka pendaki harus menuju Shelter VI. Waktu yang dibutuhkan untuk melewati Shelter VI ini kurang lebih 1 jam. Jalur ini memiliki kondisi yang cukup curam dan sempit, sehingga saat melintasi jalur ini kamu tidak punya banyak waktu untuk beristirahat.

Di Shelter VII, para pendaki membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam untuk mendaki area punggung gunung yang semakin menanjak. Di Shelter VII ini, para pendaki akan banyak melewati akar pohon, sehingga jika angin bertiup maka para pendaki bisa ikut bergoyang karena terkena hembusan angin. Namun, jalur ini juga tidak terlalu mempunyai medan yang curam seperti jalur sebelumnya. Dari Shelter VII ini, kamu hanya memerlukan waktu sekitar 10 menit untuk sampai di Gunung Salak I.

Sampailah kamu di puncak Gunung Salak I. Di puncak ini kamu akan melihat masih banyaknya pohon-pohon besar tumbuh. Tempatnya sangat luas, sehingga bisa digunakan untuk mendirikan tenda. Terdapat makam kuno di puncak ini, diantaranya makam Embah Gunung Salak yang mempunyai nama asli Raden k.H Moh. Hasan Bin Raden K.H Bahyudin Baraja Kusumah. Masih dalam kawasan puncak ini, terdapat juga makam kuno yang lain, yaitu makam Raden tubagus Yusup Maulana Bin Seh Sarip Hidayatullah. Selain makam, ada juga tempat yang cukup mistis yaitu sebuah pondok yang sering dijadikan para pejiarah untuk menginap.

Menuju Kawah Ratu

Kawah ratu yang sangat indah
anekatempatwisata.com

Dari Shelter IV, dibutuhkan waktu kurang lebih satu jam untuk sampai di Kawah ratu. Adapun Kawah Ratu sendiri terdiri dari 3 kawah, yaitu Kawah Hurip (Kawah hidup), Kawah Paeh (Kawah paeh) dan Kawah Ratu (Paling besar). Kawah Ratu sndiri adaah kawah aktif yang secara berkala sering mengeluarkan gas yang mengandung belerang. Ada larangan ketika mengunjungi tempat ini, yakni dilarang meminum air belerang dan dilarang mendirikan tenda.

2. Jalur Pasir Reungit

Untuk menuju puncak lewat jalan pendakian Pasir Reungit, dari stasiun Bogor kamu bisa naik angkot jurusan Bebulak. Selanjutnya dari terminal Bebulak bisa disambung dengan naik angkot jurusan Leuwiliang, kemudian turun di simpang Cibatok. Dari simpang Cibatok kamu bisa naik angkutan pedesaan ke Bumi Perkemahan Gunung Bunder atau Gunung Picung yang berhenti di Pasir Reungit.

Pada rute ini, kamu bisa menjumpai dua kawah yang berukuran kecil, yaitu Kawah Anjing dan Kawan Monyet. Jika musim hujan tiba, maka bagian tempat itu akan berubah menjadi saluran air yang alami. Terdapat perkemahan dan tiga mata air di sekitar Desa pasir Reungit. Ketiga mata air itu yaitu Curug Seribu, Curug Cigamea Satu, Curug Cigamea Dua, ketiganya bisa di lewati sebelum ke Kawah Ratu.

Masih dekat kampung Pasir Reungit, terdapat sebuah curug yang yang bernama Curug Ngumpet. Curug ini memiliki ketinggian kisaran 20 meter dan mempunyai  tumpahan air yang cukup lebar. Sedangkan Curug Cigamea mempunyai tinggi sekitar 50 meter. Nah, kalau Curug Seribu merupakan curug yang tertinggi diantara ketiga curug itu. Curug ini mempunyai tinggi sekitar 200 meter. Sehingga tumpahan airnya menyatu dan cukup besar, tak heran dari jarak yang cukup jauh pun kita sudah dapat merasakan percikan airnya yang dingin.

3. Jalur Giri Jaya (Curug Pilung)

Jaur Giri Jaya berada di Wana Wisata Curug Pilung, desa Giri Jaya, kecamatan Cidahu, kabupaten Sukabumi. Butuh waktu sekitar 5-8 jam perjalanan untuk mencapai puncak Gunung Salak jika melalui jalur pendakian ini. Kamu bisa menggunakan ojeg untuk menuju desa Giri Jaya ini. Namun jika kamu memiliki jiwa petualang, kamu bisa berjalan kaki menuju desa itu dengan waktu tempuh kurang lebih 3.5 jam – 4 jam perjalanan.

Di gerbang masuk Wana Wisata Cicurug Pilung, kamu hanya perlu berjalan kaki beberapa meter saja. Setelah itu, akan terlihat sebuah gapura pintk masuk menuju Pasareyan Eyang Santri. Setelah sampai sana, pendaki akan berjalan melalui jalan-jalan kecil rumah warga, lalu mereka akan sampai di kebun-kebun warga sekitar. Setelah 15 mnit berjalan, pendaki akan sampai di sebuah pertapaan Eyang Santri. Disini terdapat sebuah MCK yang didalamnya terdapat air yang bersih. Saat sampai MCK ini, sebaiknya para pendaki mengambil air bersih di sini sebab dari jalur air ini sampai puncak tidak ada mata air yang akan didapati lagi.

Terdapat sebuah air terjun yang indah bernama Curug Pilung di bawah pertapaan Eyang Santri. Kawasan ini juga bisa digunakan untuk berkemah. Dari tempat ini para pendaki akan melewati pohon-pohon damar, jalur yang agak miring. Jika cuaca sedang bagus, dari tempat ini bisa terlihat dengan sangat jelas Gunung Gede dan Gunung Pangrango. Pohon besar dan lebat tumbuh banyak disekitar lereng-lerengnya. Selama 1 jam, kamu akan melewati jalur yang agak miring, sempit dan licin.

Setelah 3-4 jam perjalanan pendakian, kamu akan sampai di sebuah makam Pangeran Santri. Di sekitarnya terdapat sebuah pondok dan mushola. Mulai dari makam hingga puncak, jalur semakin curam dan kamu harus melewati akar dan tanah. Waktu yang dibutuhkan sekitar 2 jam untuk sampai puncak dari tempat makam tadi.

Di beberapa lokasi, kamu harus menaiki batu-batu besar yang licin dan disekitarnya adalah jurang. Selain itu, kamu harus sangat berhati-hati karena banyak akar yang tertutup lumut, bila kamu menginjak tanah maka akan terjerumus ke celah-celah akar. Biasanya di lokasi ini terdapat berbagai  jenis burung dan monyet. Kemudian para pendaki akan sampai di Shelter VII, yakni pertemuan jalur yang berasal dari Cangkuang. Dari Shelter VII untuk sampai puncak hanya membutuhkan waktu kira-kira 10 menit lagi.

4. Jalur Cimelati atau Kutajaya

Jalur Cimelati atau Kutajaya merupakan jalur pendakian menuju puncak gunung Salak yang paling pendek dan cepat. Akan tetapi, di sepanjang jalur ini kamu akan sulit menemukan sumber mata air yang bersih, sehingga harus mempersiapkan air bersih sejak dari awal pendakian.

Untuk menuju Cimelati atau Kutajaya, jika dari Bogor para pendaki dapat naik jurusan Bogor – Sukabumi dan turun di daerah Cimelati atau Cicurug. Cicurug merupakan salah satu kecamatan yang ada di kabupaten Sukabumi. Kamu bisa menyiapkan segala perlengkapan yang harus dibawa di sini, sebab di Cicurug terdapat sebuah pasar. Dari pasar Cicurug yang juga dijadikan terminal, kamu bisa naik ojeg atau menyewa mobil menuju Cimelati atau Kutajaya. kendaraan umum yang ada di sini hanya terdapat di pagi hari, itupun jumlahnya sangat minim.

Perjalanaan pendakian ini dimulai dari desa Kutajaya dengan melewati kebun pertanian serta ladang warga setempat, karena banyaknya jalan yang berjabang alangkah baiknya kamu melakukan perjalanan pada siang hari agar memudahkan perjalanan.

Jika di perjalanan sulit menemukan jalur, kamu bisa mengikuti arah air terjun. Di setiap pos terdapat tanda-tanda yang jelas, akan tetapi sangat jarang tanda-tanda penunjuk arah yang bisa kita dapati untuk menuju puncak. Selain itu, disepanjang jalur ini kamu tidak bisa membuka tenda, sebab tidak adanya lokasi yang datar dan cukup luas. Namun jangan khawatir, di beberapa pos terdapat lokasi yang cukup untuk mendirikan satu sampai dua buah tenda ukuran kecil. Itulah sebabnya, jalur ini jarang dilewati pendaki hingga kadangkala tertutup daun dan rerumputan.

Sesudah menyusuri ladang pertanian warga sekitar, selanjutnya pendaki akan melintasi hutan yang cukup lebat tetapi tidak begitu lembab. Kemudian para pendaki akan menjumpai pertigaan dari kutajaya, air terjun yang menuju puncak. Saat berjalan beberapa ratus meter menuju arah puncak, maka akan ditemui pos 3. Setelah melewati pos 3 maka pendaki akan melewati jalur yang terus menanjak dan melewati hutan-hutan yang lumayan lebat. Saat sampai di pos 4, pendaki akan menemukan jalan bercabang lagi. Di tempat ini terdapat sebuah pipa saluran air, namun jangan sampai kamu mngikuti pipa saluran air itu, baik yang ke kiri (atas) maupun yang ke kanan (bawah).

Saat kamu dapat melewati pos 4, maka jalur yang dilewati akan terlihat cukup jelas dan sudah tidak banyak percabangan lagi di sepanjang jalurnya. Untuk menuju pos 5, kamu membutuhkan waktu sekitar 1 jam perjalanan. Di pos 5, jalur akan semakin menanjak serta melewati hutan lebat dan akar-akar pohon. Di sepanjang jalur Cimelati atau Kutajaya ini, para pendaki mungkin hanya akan menikmati pemandagngan monoton yaitu berupa hutan yang lebat. Akan tetapi, pendaki juga sesekali biasanya melihat hewan-hewan sprti berbagai macam jenis burung, atau juga mungkin berpapasan atau melihat serombongan monyet yang melintasi jalur ini juga.

Dari pos 5 jika ingin sampai ke pos 6 dibutuhkan waktu kurang lebih 1 jam perjalanan. Di sini kamu bisa mendirikan sebuah tenda karena terdapat tanah datar yang cukup luas. Pos 6 ini merupakan pos terakhir, dibutuhkan waktu sekitar 1 jam lagi untuk sampai puncak Gunung Salak I dari pos 6. Puncak Gunung Salak sendiri mempunyai ketinggian sekitar 2.211 mdpl.

Pantai Ujung Genteng, Surga yang Terpendam

Pantai Ujung Genteng berada di kecamatan Ciracap, kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Pantai ujung Genteng ini masih belum banyak diketahui oleh orang banyak, tak heran pantai ini masih memiliki pasir yang sangat putih dan bersih, airnya pun masih sangat jernih.

Jarak pantai Ujung Genteng dari Pelabuhan Ratu sekitar 4-5 jam. Sehingga, jika ingin melakukan perjalanan ke sana butuh persiapan ekstra. Kalau dihitung secara kasar, butuh waktu sekitar 8-11 jam jika perjalanan berawal dari Jakarta atau Bandung. Terlepas dari itu semua, kelelahan selama perjalanan akan terbayar sudah ketika sampai di sana. Namun jika perjalanan menuju Ujung Genteng menggunakan motor, lama perjalanan bisa dipangkas menjadi sekitar 6-8 jam. Tergantung dari kecepatan kamu berkendara.

Perjalanan ke Ujung Genteng

Rute menuju pantai ujung genteng
nandawisuper.blogspot.com

Selama perjalanan menuju Ujung Genteng, kamu akan melewati jalan yang berliku serta naik turun melewati bukit. Selain itu, kamu juga akan melewati jalan yang sebagian sudah tidak beraspal dan tidak terlalu mulus. Terkadang jalan yang dilewati sedikit bergelombang dan berlubang, untuk itulah kamu harus ekstra hati-hati dan tetap fokus selama perjalanan.

Sebelum sampai ke Ujung Genteng, kamu akan melewati beberapa kecamatan yang ada di kabupaten Sukabumi. Seperti Ciemas, Surade, Jampang Kulon, Warung Kiara, Pelabuhan ratu, Cibadak dan masih banyak yang lainnya. Ketika kamu sudah sampai di kecamatan Surade, maka sebentar lagi kamu akan sampai di Ujung Genteng.

Penginapan di Ujung Genteng

Tempat penginapan yang ada di pantai Ujung Genteng
ujunggentengsukabumi.blogspot.com

Kamu tidak usah khawatir untuk mencari penginapan di kawasan Ujung Genteng, karena banyak sekali penginapan yang bisa kamu sewa di sana. Bahkan jika kamu beruntung, kamu bisa mendapatkan penginapan yang menghadap langsung ke arah pantai. Penginapan di ujung Genteng rata-rata terbuat dari anyaman bambu, untuk harganya sendiri sekitar ratusan ribu dan tersedia 3-5 kamar.

Tempat Penangkaran Penyu di Pantai Ujung Genteng

Tempat penangkaran penyu yang ada di pantai ujung genteng
virmawanvirman15.blogspot.com

Paling enak memang berkunjung ke pantai ini bersama keluarga dan kerabat. Saat berkunjung ke pantai ini, sebaiknya kamu mengunjungi beberapa tempat yang indah dan menarik.

Nama lain dari anak penyu adalah tukik
addictadventure.blogspot.com

Contohnya, terdapat pengangkaran penyu di sekitar pantai ini. Kamu dapat menyusurinya menggunakan motor atau mobil yang ada. Jalan menuju penangkaran penyu ini terbilang tidak mudah apalagi saat kondisi hujan turun. Di tempat penangkaran ini wisatawan dapat menyaksikan secara langsung telur penyu dan tukuk atau anak penyu yang akan dilepas ke lautan. Jika kamu datang pada malam hari ke tempat ini, kamu dapat juga menyaksikan penyu yang sedang naik ke daratan untuk bertelur.

Wisata di Sekitar Ujung Genteng

Selain wisata Pantai Ujung Genteng itu sendiri, terdapat tempat wisata yang lainnya yang ada di sekitar kawasan Ujung Genteng. Contohnya, sebuah air terjun yang bernama Curug Cikaso. Memang Curug Cikaso ini letaknya cukup jauh dari pantai Ujung Genteng, namun sangat disayangkan jika kamu tidak mengunjungi Curug ini.

Curug cikaso merupakan salah satu wisata alam di Sukabumi
peepindonesia.com

Curug ini masih terdapat dalam kawasan ujung Genteng. Untuk mengetahui jalan menuju curug ini, kamu bisa menanyakan kepada warga sekitar. Ketika sampai di lokasi parkir Curug Cikaso, untuk menuju air terjun kamu bisa berjalan kaki atau menggunakan perahu yang disewakan. Air terjun Curug Cikaso ini terkenal dengan airnya yang masih jernih serta suasanya yang masih asri dan alami. Kenapa bisa begitu? Sebab, masih banyak orang yang belum mengunjungi tempat ini. Selain itu, ketinggian curugnya pun cukup tinggi dan memiliki dasar yang cukup dalam. Sehingga, bagi kamu yang tidak bisa berenang sebaiknya tidak berenang di kawasan ini.

6 Tempat Wisata Pelabuhan Ratu di Sukabumi

Sudah banyak orang yang mengetahui, bahwa kawasan wisata Pelabuhan Ratu merupakan salah satu destinasi paling menarik yang dapat kamu junjungi ketika berada di Kabupaten Sukabumi. Wisata Pelabuhan Ratu sendiri mempunyai karakteristik yang didalamnya terdapat ombat laut yang besar, tebing karang yang terjal, serta panorama pantai yang sungguh menakjubkan. Inilah salah satu penyebab Pelabuhan Ratu menjadi salah satu destinasi wisata yang sangat digemari oleh wisatawan lokal bahkan mancanegara.

Jika dilihat dari data administratif, Pelabuhan Ratu merupakan sebuah kecamatan yang didalamnya terdapat satu keluharan dan sembilan desa. Karena letak geografisnya yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia, tempat wisata ini menyuguhkan sejumlah wisata bahari yang menakjubkan, mulai dari scuba diving yang berkesan hingga panorama pantai yang indah.

Dari jakarta, perjalanan yang harus ditempuh menuju pelabuhan ratu sekitar 138 Km danmenghabiskan waktu sekitar 5-6. Sedangkan dari Bandung jaraknya sekitar 155 km dan menghabiskan waktu sekitar 6-7 jam.

Dari sekian cerita yang terdapat di wisata Pelabuhan Ratu, ada satu kisah mistis yang sangat populer yaitu cerita tentang Nyi Roro Kidul. Nyi Roro Kidul sering dikaitkan dengan Pelabuhan Ratu karena posisi pantainya yang berada di selatan pulau Jawa. Kisah mistis ini juga merupakan sebuah kearifan lokal dan tidak bisa dari popularitas Pelabuhan Ratu itu sendiri. Sehingga dengan ditambah kisah mistis ini membuat destinasi wisata yang satu ini banyak dikunjungin wisatawan domestik bahkan mancanegara.

Tempat Wisata di Pelabuhan Ratu

Saat berkunjung ke Pelabuhan Ratu, kamu dapat mengunjungi beberapa tempat menarik yang bisa ditemukan di Kawasan Wisata Pelabuhan Ratu Sukabumi.

1. Pantai Pelabuhan Ratu

Kawasan Wisata Pantai Pelabuhan Ratu
mediainformasionline.com

Dari sekian banyak tempat wisata yang ada di Sukabumi, tempat wisata ini merupakan tempat wisata yang paling utama dan terkenal jika berkunjung ke kawasan Pelabuhan Ratu. Di pantai Pelabuhan Ratu kamu akan menikmati panorama yang menakjubkan dan ditemani udara sejuk serta hamparan pasir yang luas. Selain itu, kamu juga akan banyak menjumpai bebaturan karang terjal yang menghadap ke laut. Deburan ombak besar dan kencang yang menghantam karang akan semakin membuat kamu terpesona dibuatnya.

Biasanya para pengunjung ketika berada di pantai ini sering bermain pasir, menikmati alam sekitar hingga berkemah di pinggir pantainya. Selama di sini kamu bisa berkeliling dengan jalan kaki untuk menyusuri pantai ini. Namun jika kamu sedang malas berjalan kaki, alternatif menyewa kuda mungkin bisa menjadi pilihan yang tepat untukmu.

2. Scuba Diving di Pelabuhan Ratu

Scuba diving menikmati keindahan alam bawah laut Pelabuhan Ratu
divezonebath.co.uk

Selain menikmati pantainya, kamu juga bisa menikmati keindahan alam bawah laut kawasan Wisata Pelabuhan Ratu. Walaupun dikenal dengan arus lautnya yang besar, namun ternyata tidak semua tempat di kawasan Pelabuhan Ratu memiliki arus yang kuat dan ombak besar. Salah satu spot di Pelabuhan Ratu yang terkenal dan bisa dijadikan tempat untuk diving adalah Batu Kuok, Karang Antuk dan Sodong Parat. Dari ketiga spot diving yang disebutkan, Karang Antuk merupakan spot favorit yang disukai para penikmat diving.

Jika ingin menikmati pesona eksistem alam bawah laut Pelabuhan Ratu yang didalamnya terdapat berbagai spesies ikan dan terumbu karang yang indah, kamu bisa menghubungi dive operator yang ada kawasan itu.

3. Goa Lalay

Goa Lalay Pelabuhan Ratu
disparbud.jabarprov.go.id

Kenapa disebut Goa Lalay? Karena didalamnya terdapat jutaan kelalawar yang hidup didalamnya. Lalay adalah nama lain dari kelalawar. Saat hari mulai senja, biasanya gerombolan kelalawar akan mulai terbang dan keluar dari dalam gua itu. Letak gua ini hanya beberapa meter dari bibir pantai, sehingga memungkinkan kamu untuk bisa menikmati sunset di Pelabuhan Ratu sambil menyaksikan ribuan kelalawar terbang menari di atas kepalamu.

4. Pantai Cimaja

Pantai Cimaja Sukabumi
rajakamar.com

Walaupun kurang populer, namun Pantai Cimaja tidak kalah indah dengan pantai Pelabuhan Ratu. Pantai ini lokasinya dekat dengan Pelabuhan Ratu dan merupakan salah satu tempat surfing paling favorit dikalangan para peselancar. Bahkan saking enak dan nyaman pantai ini untuk surfing, membuat pantai ini bisa dikenal sampai kalangan surfer internasional. Beberapa kompetisi surfing baik nasional maupun internasional pun pernah terselanggara di pantai ini. Tinggi ombak di pantai Cimaja ini sekitar 4 meter dan memiliki ombak yang besar. Setiap akhir pekan, para wisatawan dipantai ini sering didominasi oleh para surfer.

Namun begitu, pantai Cimaja bukanlah hanya untuk aktifitas berselancar saja. Di pantai ini kamu dapat menghabiskan waktu dengan menikmati panorama pantai dengan pemandangan bebatuan kali bulat-bulat yang terdapat didalamnya. Sambil menikmati pemandangan juga kita bisa menyaksikan para peselancar menunjukkan keahliannya menerjang ombak Cimaja.

Baca juga: 7 Tempat Wisata di Sukabumi yang Akan Membuatmu Terpesona Dibuatnya.

5. Pantai Karang Hawu

Pantai Karang Hawu Sukabumi
bandung.panduanwisata.id

Letak pantai ini juga masih dalam area wisata Pelabuhan ratu. Panorama unik yang bisa kita jumpai di Karang Hawu adalah pemandangan karang dan tebing yang menghadap ke laut. Sungguh panorama di pantai ini sungguh memikat, mempertunjukkan akan keindahan jajaran karang dan tebing yang membaur dengan derasnya ombak. Akan tetapi di pantai ini memiliki ombak yang cukup besar dan deras, sehingga disarankan sebaiknya tidak melakukan aktifitas surfing di pantai ini.

6. Pemandian Air Panas Cisolok

Pemandian Air Panas Cisolok Sukabumi
initempatwisata.com

Tidak jauh dari kawasan wisata Pelabuhan Ratu, terdapat sebuah pemandian air panas yang terdapat di desa Cisolok. Pemandian air panas ini dikenal dengan Pemandian Air Panas Cisolok. Keunikan tempat pemandian air panas ini salah satunya adalah air panas ini keluar melalui bebatuan dengan tiga titik sembur. Air yang keluar ini mempunyai suhu yang tinggi mencapai 80 derajat celsius. Oleh sebab itu, kamu tidak boleh mendekat dengan titik sembur ini.

Pada umumnya kita sering menemukan bahwa pemandian air panas itu biasanya berada di kawasan pegunungan. Namun hal ini justu sebaliknya, pemandian air panas Cisolok ini berada di kawasan pantai. Selain menjadi tempat wisata, banyak masyarakat yang percaya bahwa berendam di pemandian air panas ini dapat membantu mengobati penyakit serta bermanfaat untuk kesehatan. Dan hal unik lainnya, ternyata air panas Cisolok berasal dari Geyser bumi dan tidak mengandung belerang.

Hotel di Kawasan Wisata Pelabuhan Ratu

Selain mempunyai tempat wisata yang sangat indah, kawasan wisata Pelabuhan Ratu juga memiliki sarana dan insftrastuktur yang cukup baik untuk menunjang para wisatawan. Banyak hotel yang tersedia untuk para wisatawan, mulai hotel kelas bawah sampai kelas tinggi.

Jika ingin berlibur di kawasan ini dalam jangka waktu yang cukup lama, kamu bisa memesan hotel terlebih dahulu, baik dengan mendatangi atau menelpon pihak hotel, atau dengan membooking lewat online.

Cara Menuju Pelabuhan Ratu

Jika hendak ingin berlibur menuju Pelabuhan Ratu dan kamu berasal dari Jakarta, kamu bisa memakai dua alternatif pilihan. Jika menggunakan kendaraan umum, kamu bisa datang ke terminal Baranang Siang terlebih dahulu, kemudian naik bus jurusan Bogor-Pelabuhan Ratu. Perjalanan ini membutuhkan waktu kira-kira 4 jam. Sedangkan jika menggunakan kendaraan pribadi, kamu bisa menyusuri jalan nasional Bogor – Sukabumi, saat sampai di pertigaan Cibadak, kamu bisa memilih jalur menuju Pelabuhan Ratu.

Sedangkan jika dari Bandung, kamu bisa ke terminal Sukabumi dahulu. Kemudian kamu bisa translit naik bus jurusan Sukabumi – Pelabuhan Ratu. Waktu yang diperlukan dari Bandungh menuju Pelabuhan Ratu diperkirakan sekitar 7 jam.

Indahnya Menjelajah Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Taman Nasional Gunung Gede (TNGGP) merupakan wisata alam yang terdapat di daerah Cianjur dan Sukabumi. Taman nasional ini diresmikan pada tahun 1980 pada era zaman orde baru. Banyak wisata alam yang terdapat di Gunung Gede Pangrango, diantaranya Bumi Perkemahan Mandalawangi, Curug Cibereum, dan masih banyak lagi yang lainnya. Taman nasional ini memiliki luas 21.975 hektare dan kawasan ini juga ditutupi oleh hutan hujan tropis pegunungan, sehingga mempunyai peranan sangat penting dalam hal sejarah konservasi di Indonesia.

Hal Menarik di Gunung Gede Pangrango

 

Gunung Gede {angrangi dilihat diatas puncak
wisatacibodas.com

Di kawasan Gunung Gede Pangrango terdapat berbagai jenis tumbuhan dengan banyak sekali spesies unik didalamnya. Mulai dari “si pemburu serangga” atau yang biasa disebut kantong semar (Nephentes spp), “si pohon raksasa” Rasamala, serta berbagai jenis anggrek hutan. Dan yang lebih mengejutkan lagi, di sini pula terdapat beberapa jenis tumbuhan yang sama sekali belum dikenal nama ilmiahnya, contohnya sebuah jamur yang bercahaya.

Selain tumbuhan, di sini juga menjadi habitat berbagai hewan liar. Contohnya anjing hutan, kepik raksasa, kijang, macan tutul, pelanduk, sigug dan masih banyak yang lainnya. Lebih dari 250 jenis burung dan 100 jenis mamalia tersebar di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Di sini juga adalah habitat Elang Jawa, Owa Jawa, Lutung dan Surili yang sudah kita ketahui semua populasinya hampir mendekati punah.

Keindahan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Sudah pasti bagi seorang pendaki, keindahan dan panorama alam merupakan daya tarik tersendiri bagi dia untuk mendaki suatu gunung, tak terkecuali juga dengan Gunung Gede pangrango. Banyak sekali tempat yang indah dan menakjubkan yang terdapat di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango ini. Sulit untuk dituliskan dengan kata-kata, lebih bagusnya kamu mengunjungi sendiri dan rasakan sensasi keindahannya.

Air Terjun Cibereum

Curug di Sukabumi yang wajib kamu kunjungi
ilmupendakigunung.blogspot.com

Air terjun ini berada di kaki Gunung Gede Pangrango. Berjarak sekitar 3,5 km dari Selabintana, nama tempat wisata yang ada di Sukabumi. Di sini kamu bisa melihat curug atau air terjun yang sangat indah dan mempunyai air yang sangat jernih. Banyak orang yang sudah mengetahui akan keberadaan Curug Cibereum ini, namun karena jaraknya yang lumayan jauh dan medan yang harus di tempuh itu tidak mudah, jadi dijamin keasriannya masih sangat terjaga. Saat memasuki kawasan ini, kamu akan dikenai biaya 3.000 oleh petugas yang berjaga.

Karena jaraknya yang cukup jauh, terdapat pula beberapa penginapan yang ada di sekitar Curug Cibereum, sebut saja di gerbang TNGGP Resort Selabintana, lokasi kedua berada 500 meter dari gerbang TNGGP dan lokasi ketiga dan keempat itu berada 800 meter dari gerbang TNGPP dan sangat berdekatan langsung dengan hutan rimba.

Telaga Biru

Telaga atau Danau Biru Gunung Gede Pangrango
nrmnews.com

Telaga biru merupakan kawasan wisata yang berada di jalur pendakian puncak Gunung Gede Pangrango dan masih berada di dalam kawasan Taman Nasional gunung Gede Pangrango. Posisinya berada tidak jauh dari gerbang Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, mungkin berjarak sekitar 1,5 km. Nah, perjalanan menuju kawasan ini juga searah dengan air terjun atau curug Cibereum.

Alun-alun Surya Kencana Gunung Gede Pangrango

Alun-alun Suryakencana Gunung Gede Pangrango
bandung.panduanwisata.id
Bunga Edelweiss di Gunung Gede Pangrango
dedeanggriawan.blogspot.com

JIka kamu penggemar bunga edelweiss, maka Alun-alun Suryakencana adalah salah satu tempat terbaik untuk bisa melihat bunga ini tumbuh dengan indahnya. Alun-alun Surya Kencana bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 4-5 jam yang masuknya itu melalui jalur Gunung Putri. Para pendaki Gunung Gede sering mengunjungi tempat ini untuk beristirahat dan mengambil foto di tempat ini. Di sini pun disediakan untuk untuk berkemah bagi para pendaki yang ingin beristirahat sejenak.

Jika jalur pendakian dari Cibodas, kamu akan merasakan sensasi yang tak jauh beda ketika melewati Curug Cibereum karena jalannya yang memang sama. Kemudian kamu akan melewati jalur pendakian dengan pemandangan hutan tropis yang sangat menakjubkan. Di sana pula terdapat sebuah sumber mata air panas yang sering digunakan untuk keperluan istirahat para pendaki.

Kandang Badak di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
superduperlebay.wordpress.com

Kemudian ada juga nih Kandang Badak yang merupakan persimpangan antara Gunung Pangrango dengan Gunung Gede. Saat sampai di Kandang Badak, kamu bisa memiilih pendakian mana yang akan kamu lakukan terlebih dahulu. Selanjutnya kamu akan melalui tanjakan rante yang mempunyai kemiringan hampir 180 derajat. Namun tenang saja, saat melewati itu sudah disiapkan pancang tali untuk membantu kamu.

wisatacibodas.com
wisatacibodas.com

Mendekati puncak Gunung Gede, pepohonan yang dulu begitu tinggi dan besar kini semakin pendek dengan berbagai spesiesnya yang unik. Dan begitu sampai puncak, kamu akan disuguhkan dengan panorama alam yang begitu indah memanjakan mata. Namun jika kamu ingin sampai ke puncak kawah, kamu harus berjalan beberapa kilometer lagi dimana disebelah kanan dan kirinya terdapat tebing yang cukup curam.

Jika cuaca sedang bagus, kamu bisa berkemah di puncak gunung Gede yang menghadap langsung ke arah kawah. Di jamin kamu akan mendapakan sensasi yang tak terlupakan. Akan tetapi kalau cuaca sedang buruk, sebaiknya kamu berkemah di Alun-alun Suryakencana yang tempatnya cukup aman da berada disisi lain tebing Gunung Gede.

Terakhir, panorama yang tidak kalah menakjubkannya adalah kamu bisa menikmati sunrise yang begitu indah.

Sunrise Gunung Gede Pangrango yang begitu menakjubkan.
google.com

Jadi, kapan kamu akan berencana berjelajah di Taman nasional Gunung Gede Pangrango? Semoga seru yaa 😀

7 Tempat Wisata di Sukabumi Yang Akan Membuatmu Terpesona Dibuatnya

Sukabumi merupakan sebuah dataran tinggi yang dihimpit oleh Gunung Pangrango dan Gunung Gede. Wajar bila di daerah ini memiliki udara yang sejuk. Selain di apit oleh gunung, di sukabumi juga mempunyai pantai serta laut yang indah, seperti Pantai Pelabuhan Ratu, Pantai Ujung Genteng dan masih banyak yang lainnya.

Asal kata sukabumi diambil dari kata yaitu Soeka yang mempunya arti “cinta, suka” dan bhoemi yang mempunyai arti “tanah yang dicinta/suka”.
Kawasan wisata di Sukabumi didominasi oleh wisata alam yang sungguh menakjubkan. Contohnya seperti danau, situ, air terjun dan masih banyak yang lainnya. Jika ingin tau lebih lengkap tempat wisata yang ada di SUkabumi, mari simak artikel  berikut ini.

1. Curug Cikaso

Curug cikaso merupakan salah satu wisata alam di Sukabumi
peepindonesia.com

Air tejun Curug Cikaso berasal dari Sungai Cikaso. Di kawasan Curug Cikaso ini sebenarnya mempunyai tiga air tejun. Yang ketiga air terjun ini mempunyai nama yang berbeda-beda. Di yang paling kanan yang posisinya agak tersembunyi ada Curug Aki, geser kesebalah tengah terdapat Curug Meong dan yang paling kiri itu namanya Curug Asepan.

Terdapat sebuah kolam di bawah ketiga air terjun itu yang memiliki warna hijau kebiruan yang menyegarkan mata. Biasanya para pengunjung menggunakan kolam itu untuk berendam, berenang atau mungkin sekedar untuk bermain air. Aliran air yanga ada di kolam ini akan berakhir di Muara Tegal Buleud. Lebar tebing Curug Cikaso ini sekitar 100 meter, dan mempunyai tinggi sekitar 80 meter.

2. Curug Cigangsa

Air terjun Curug Cigangsa
sirius87a.wordpress.com

Konon awal mula terbentuknya Curug Cigangsa ini karena dahulu pernah terjadi gempa yang sangat kuat, yang akhirnya menimbulkan longsor. Curug Cigangsa mempunyai tiga tingkatan dan bebatuan yang berwarna kehitaman. Namun tak seperti Curug-curug pada umumnnya yang mempunyai debit air yang deras, Curug Cigangsa ini mempunyai debit air yang terbilang kecil. Hal ini disebabkan karena di bagian hulu curug dibendung untuk keperluan sarana irigasi. Walaupun begitu, curug ini tak kalah indahnya dengan curug-curug yang lainya. Kamu bisa mengambil foto di Curug ini dengan latar belakang air terjun yang indah dipandang mata.

3. Curug Cimarinjung

Indahnya Curug Cimarinjung Sukabumi, surga yang terpendam
jelajahsukabumi.wordpress.com

Curug ini tidak terlalu memiliki ailian air yang deras, dan banyak orang yang belum mengetahui akan keindahan curug ini. Curug Cimarinjung berada di daerah kabupaten Sukabumi tepatnya di kawasan Geopark Ciletuh. Saat tiba di curug ini, kamu akan disuguhkan dengan pemandangan-pemandangan yang menakjubkan. Bebatuan yang besar serta tebing curug yang berwarna kecoklatan membuat ingatanmu mungkin sedang merasa di Grand Canyon sana.

Curug ini mempunyai ketinggian sekitar 45 meter. Dalam foto ini terlihat curug ini sangat menawan, memang benar karena alirannya yang sedang tidak terlalu begitu deras. Namun jik alirannya sedang deras, kamu harus lebih berhati-hati.

4. Pemandian Air Panas Cipanas

Lokasi tempat wisata ini pemandian air Cipanas Sukabumi dekat dengan Pelabuhan ratu
travelagentjakarta.com

Pemandian air panas di Cipanas ini merupakan salah satu tempat wisata favorit yang ada di Sukabumi. Karena selain harganya yang terjangkau, juga suasana pemandian air panasnya sendiri yang santai dan bisa membuat rilex siapa saja yang berendam di sana. Lokasi pemandian air Cipanas ini berjarak sekitar 15 km dari Pelabuhan Ratu.

Sumber air panas keluar dari dalam tanah dan bebatuan yang memancar cukup tinggi. Selain dijadikan tempar wisata, sebagian wisatawan percaya bahwa air panas bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit kulit. Untuk menunjang tempat wisata ini, pemerintah dan pengelola sudah membangun berbagai fasilitas penunjang seperti kolam khusus berenda, pondok tempat beristirahat serta tempat penginapan.

5. Situ Sukarame

Situ Sukarame yang sangat indah
qolbunhadi.com

Situ Sukarame berada di kaki Gunung Salak. Persisnya berada di Kecamatan Parakansalak, Kabupaten Sukabumi. Ada yang hal unik dari situ ini, karena ternyata situ ini merupakan tempat bertemunya 7 sungai, yaitu sungai Cipangelah, sungai Cikahuripan, sungai Citaman, sungai Cisalada, sungai Cisela dan sungai Cisarandi.

Dari cerita warga sekitar, kawasan situ ini pada awalnya merupakan sebuah hutan belantara, lalu salah seorang warga Belanda membendung sungai hingga akhirnya menjadi Situ Sukarame. Di kawasan ini kamu bisa menikmati fasiitas permainan yang ada, contohnya sepeda air yang dikelola oleh warga setempat dan pemerintah.

6. Situ Gunung

Situ Gunung merupakan salah satu tempat wisata di Sukabumi yang terkenal
qolbunhadi.com

Jika kamu merasa pusing akan hiruk-pikuknya suasana kota yang kamu tinggali, untuk menghilamngkannya kamu bisa mengunjung kawasan wisata yang cukup populer di Sukabumi yaitu Situ Gunung. Letak situ gunung ini berada di kaki Gung Gede Pangrango. Saat kamu berkunjung ke sini, kamu akan menikmati suasana yang akan membuat dirimu tenang, danau yang begitu indah dan dikelilingi pohon-pohon yang rindang membuat kamu akan betah lama-lama berada di kawasan ini. Selain dijadikan tempat wisata, Situ gunung juga bisa dijadikan untuk tempat kemping yang pas bersama teman-temanmu. Namun jika memang niat ingin berkemah, kamu harus lapor terlebih dahulu kepada petugas yang berjaga di pos penjagaan.

7. Arung Jeram Sungai Citarik dan Sungai Citatih

Derasanya aliran sunga citarik membuat adrenalinmu tertantang
qolbunhadi.com

Untuk yang hobi arung jaram, sepertinya Sungai Citarik dan Sungai Citatih adalah tempat yang cocok untuk menguji adrenalinmu. Arung jeram sungai citaara. Sedangkan Sungai Citarik berada di Desa Bojongkerta, Kecamatan Warungk berada di Desa Citarik, Kecamatan Pelabuhanratu.

Namun untuk kamu yang baru pertama kali melakukan arung jeram dan masih pemula, sebaiknya memilih Sungai Citarik terlebih dahulu yang mempunyai medan yang tidak terlalu sulit. Sedang, jika untuk yang sudah terbiasa melakukan arung jeram, Sungai Citatih adalah tempat yang pas untuk menguji adrenalinmu karena disini memiliki arus sungai yang cukup deras serta rute arum jeram yang lumayan panjang dan lebar.

Demikian ulasan singkat mengenai beberapa tempat wisata yang ada di Sukabumi. Sebenarnya masih banyak tempat wisata di Sukabumi yang belum disebutkan. Lain kali, kita bahas yang lainnya, oke?
Jadi, kamu mau mulih tempat wisata yang mana?

Indahnya Menyusuri Kawasan Geopark Ciletuh, Surga Yang Terpendam

Jika kamu akan mencari tempat indah untuk melepaskan penatmu. Tempat Wisata ini mungkin bisa jadi alternatif pilihanmu. Namanya adalah kawasan Geopark Ciletuh, berada di kabupaten Sukabumi. Terhampar sebuah mahakarya Tuhan dengan pemandangan yang sungguh menakjubkan. Mulai dari air terjun (curug), batuan purba, sungai, sawah, pegunungan dan hamparan lautpun ada di tempat ini. Kawasan wisata ini memang belom terlalu dikenal seperti Pelabuhan Ratu atau Ujung Genteng, karena alan menuju kawasan wisata ini bisa dibilang masih jelek. Jadi wajar belum banyak orang mengetahui keindahan kawasan ini.

Mungkin kamu bertanya, bagaimana sih rupa Geopark Ciletuh itu? Dari hasil penelitian dari beberapa ahli geologi, Geopark Ciletuh merupakan salah satu kawasan dengan batuan tertua yang ada di Pulau Jawa. Menurut kabar yang beredar, dulunya sih tempat ini adalah sebuah laut. Jika dilihat dari foto-foto yang ada di Internet, hamparan alam Geopark Ciletuh ini memang unik karena menyerupai amfiteater raksasa yang menghadap ke Samudera Hindia dengan membentuk seperti tapal kuda. Nah, mungkin kamu sekarang jadi penasaran kan.

Saya sendiri pertama kali mendengar nama Geopark Ciletuh sekitar 2 tahun yang lalu. Akan tetapi, baru pada tanggal 31 Januari 2014 bisa berkunjung ke tempat ini. Kami menggunakan One Day One Night Trip, jadi perjalanan di buat sepagi mungkin agar bisa tepat waktu menuju beberapa tempat lokasi yang kami tuju. Bahkan semenjak tengah malam, ada beberapa rombongan yang sudah stand by di Terminal Sukabumi. Pada jam 2 dini hari, rombongan langsung di jemput oleh petugas pengelola tempat wisata yaitu seorang sopir yang menggunakan mobil off road landy.

Mobil Offroad yang kami gunakan
wisata.kompasiana.com

Akhirnya kamipun berangkat menembus kegelapan malam dengan menggunakan mobil off road. Kami menggunakan rute via Cibadak yang menuju arah Pelabuhan Ratu, kemudian berbelok ke arah Simpenan, terus menembus sampai kecamatan Ciemas. Saya sendiri duduk paling depan, namun karena kami berangkat masih dalam keadaan gelap gulita, saya pun tidak terlalu mengenali jalan-jalan yang dilewati. Rute-rute di awal perjalanan memang mulus tidak terlalu banyak yang rusak, namun lama kelamaan jalan mulai rusak dan berbelok-belok. Saya yang sedang mengantuk dan mau tidur akhirnya terbangun kembali karena kondisi jalan yang rusak. Selama di perjalanan, saya menemani pak supir mengobrol seputar Geopark Ciletuh. Menurut apa yang disampaikan pak supir, kawasan wisata Geopark Ciletuh ini dikelola oleh Pemda Kabupaten Sukabumi dan PAPSI (Paguyuban Alam Pakidulan SUkabumi) di bawah binaan PT Biofarma. Kawasan ini juga ternyata tengah dikembangkan agar bisa menjadi salah satu tempat wisata di Sukabumi yang banyak menarik para wisatawan luar daerah atau bahkan luar negeri.

Di tengah kegelapan malam mobil terus melaju melewati perkebunan karet, teh dan masih banyak yang lainnya. Jika hari terang, mungkin ini akan menjadi pemandangan yang sangat mengesankan. Sekitar jam 5-an, rombongan memutuskan berhenti sebentar untuk melaksanakan shalat subuh di sebuah mushola kecil. Setelah itu, kamipun melanjutkan perjalanan. Selang setengah jam dari tempat kami menunaikan shalat, terpampang sebuah gerbang yang bertuliskan “Geopark Ciletuh”. Di pagi yang terang itu, kami mampir sebentar di Basecamp Ciletuh untuk beristirahat sejenak. Disana terdapat sekali pajangan poster yang berisi foto-foto serta tulisan mengenai Ciletuh. Tentu, ini membuat kami ingin segera mencapai kawasan itu.

Biasanya butuh waktu sekitar 3-4 hari untuk mengunjungi seluruh kawasan Geopark Ciletuh ini. Namun jika punya waktu yang terbatas, kamu sudah bisa mengunjungi beberapa tempat wisata yang bisa dijangkau cukup dengan satu hari. Salah satu contohnya seperti Curug Awang, Curug Cimarunjung, Curug Sodong, Pantai Palangpang, Panenjoan dan Puncak Drama. Setelah beristirahat, kamipun segera melanjutkan perjalanan menuju lokasi pertama yang akan dikunjungi yaitu Panenjoan. Lokasi ini memang paling dekat dengan gerbang kawasan Geopark Ciletuh. Menurut si supir, Panenjoan sendiri mempunyai arti yaitu tempat melihat. Lokasi ini berada di atas bukit, jadi dari pinggir jalanpun sudah bisa terlihat pemandangan sawah serta lembah hijau yang begitu menakjubkan. Di kejauhan kita bisa melihat Samudera Hindia yang membentang luas. Semua itu dibatasi dengan tebing-tebing yang banyak ditumbuhi dengan pepohonan hijau yang agak melengkung menghadap ke arah laut. Jika kita perhatikan dinding-dinding tebing dengan seksama dari kejauhan, terdapat garis berwarna putih, mungkin itu adalah sebuah curug. Pada waktu itu cuaca sedang mendung, kabut-kabut tipis terlihat bermunculan dari kejaugan di atas puncik bukit. Walaupun demikian, namun tetap saja sangat indah pemandangannya. Mashaa Allah, begitu indah ciptaanmu ini.

Tempat kita melihat di bukit panenjoan
wisata.kompasiana.com
Pemandangan Panenjoan dari sisi yang lainnya
wisata.kompasiana.com
Pemandangan petak sawah dilihat dari atas bukit Panenjoan
wisata.kompasiana.com

Kemudian kami menuju Curug Awang yang letaknya tidak jauh dari Panenjoan. Kami bisa sampai ke Curug Awang setelah ketika sudah melewati pemandangan sawah khas pedesaan serta jalanan berbatu. Sebenarnya dari gerbang curug pun kalau jalanpun dekat, karena dari kejauhan Curug ini sudah dapat terlihat. Curug ini berasal dari aliran Sungai Ciletuh yang membentuk suatu patahan yang membelah bukit. Jadi curug ini bukan berasal dari mata air di puncak bukit. Keunikan dari curug ini yatu dindingnya yang berbentuk seperti patahan tembok yang berwarna coklat. Selain itu, warna airnya pun agak berwarna kecoklatan karena terpengaruhi jenis tanahnya sendiri. Jadi jika ingin minum air curug, sebaiknya kamu tidak melakukannya, kecuali kalau kamu memang berani melakukannya, hehe. Di sisi curug terdapat sebuah terasering yang diatasnya terdapat batu-batu yang sangat besar. Untuk sampai ke curug itu sendiri, kamu bisa melewati jalan pintas yang terdapat pada sela-sela terasering. Namun ketika melewatinya kamu harus sangat berhati-hati karena jalannya yang licin serta kemiringannya yang mencapai 45 derajat. Curug Awang sendiri posisinya itu paling tinggi diantara dua curug lainnya yang alirannya sama-sama berasal dari Sungai Ciletuh, yakni Curug Puncak Manik dan Curug Tengah.

Pemandangan Curug Awang dilihat dari kejauhan
wisata.kompasiana.com
Pemandangan Curug Awang dilihat dari dekat
wisata.kompasiana.com
Pemandangan di sekitar curug awang
wisata.kompasiana.com

Saat itu cuaca lumayan cerah, namun itu cuman beberapa saat hingga akhirnya hujanpun turun. Waktu sudah menunjukkan jam 10 lebih, kami harus bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan menuju Curug Sodong. Saat itu jalanan yang harus dilewati semakin jelek dan menurun. Sekitar setengah jam mobil kami bergoyang mengikuti arus jalanan. Saat itu saya sempat tertidur karena kelelahan, namun itu tidak lama karena mobil kami menari dengan kerasanya mengikuti bentuk jalanan, hehe. Saat melihat ke jalanan, ternyata kami sedang melintasi jalan yang kami lihat tadi di atas Panenjoan. Dan curug yang terlihat di atas Panenjoan tadi kini terlihat lebih dekat dan jelas.

Akhirnya kami sampai di Curug Sodong. Di curug ini terdapat dua aliran yang begitu deras dan dibawahnya ada kolam yang cukup lebar. Dan di atas Curug Sodong nampak aliran curug lain yang tak lain adalah Curug Cikanteh. Sungguh pemandangan menakjubkan yang tak terlupakan.

Curug Sodong (dibawah) dan Curug Cikanteh (diatas) dilihat dari kejauhan
wisata.kompasiana.com

Karena lelah Kami memutuskan untuk istirahat sesaat di sebuah rumah warga yang dekat dengan lokasi. Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke tempat terakhir yaitu Curug Cimarinjung, Pantai Palangpang dan Puncak Darma. Ketiga tempat tersebut berada dalam satu jalur sehingga memudahkan kami. Namun karena waktu yang kami punya juga terbatas, kami memutuskan untuk hanya melewati Pantai Palangpan dan lebih mengutamakan untuk berkunjung ke Puncak Darma dan Curug Cimarinjung. Setelah melewati pantai, nampak terlihat Puncak Darma dari kejauhan, begitupun dengan Curug Cimarinjung.

Akhirnya kami sampai di Curug Cimarinjung, curug ini berwarna kecoklatan dan memiliki ciri khas dua buah batu yang ada di depannya. Selain itu di soso seberangnya terdapat pohon-pohon dengan ranting yang indah. Namun sayangnya jika ingin mengambil gambar yang bagus, kamu harus berjuang ekstra keras menghindari cipratan air yang begitu deras dan bisa membasahi lensa kamera. Selain itu, berhati-hatilah jika bermain di tempat ini, karena air yang ada di sini sudah tercemar limbah air raksa akibat bekas penambangan emas.

Pantai Palangpang dilihat dari kejauhan
wisata.kompasiana.com
Curug Cimarinjung dilihat dari dekat
wisata.kompasiana.com

Setelah puas menikmati Curug Cimarunjing, kemudian perjalanan kami berlanjut menuju tempat terakhir yaitu Puncak Darma yang katanya tempat ini merupakan primadonanya Teluk Ciletuh. Sepanjang jalan, pemandangan yang terlihat tidak jauh beda dengan yang sebelumnya kami sudah lewati. Jembatan Sungai Cimarinjung yang berwarna jingga coklat kami lewati. Dari jembatan itu kami bisa melihat Curug Nyelempet dari kejauhan. Kami pun sebentar lagi akan sampai di Puncak Darma yang terkenal dengan panorama alamnya yang indah. Dan akhirnya kami sampai di Puncak Darma, ternyata memang benar pemandangannya begitu menakjubkan. Sungguh beruntung sekali kami bisa berkunjung ke tempat ini, kelelahan selama perjalananpun terbayar sudah. Sungguh perjalanan yang sangat mengesankan dan tak terlupakan.

Jembatan Cimarinjung yang sudah mulai rusak
wisata.kompasiana.com
Aliran Sungai Cimarinjung yang berwarna coklat jingga ditimpa cahaya sore
wisata.kompasiana.com
Curug Nyelempet terlihat dari jembatan cimarinjung
wisata.kompasiana.com
Pemandangan di sekitar Puncak Darma
wisata.kompasiana.com
Menun ggu Senja di Teluk Ciletuh
wisata.kompasiana.com

Semoga tulisan singkat ini tentang Geopark Ciletuh bermanfaat. Salam.

Sumber utama : wisata.kompasiana.com