Kawasan WIsata Geopark Ciletuh

Indahnya Menyusuri Kawasan Geopark Ciletuh, Surga Yang Terpendam

Jika kamu akan mencari tempat indah untuk melepaskan penatmu. Tempat Wisata ini mungkin bisa jadi alternatif pilihanmu. Namanya adalah kawasan Geopark Ciletuh, berada di kabupaten Sukabumi. Terhampar sebuah mahakarya Tuhan dengan pemandangan yang sungguh menakjubkan. Mulai dari air terjun (curug), batuan purba, sungai, sawah, pegunungan dan hamparan lautpun ada di tempat ini. Kawasan wisata ini memang belom terlalu dikenal seperti Pelabuhan Ratu atau Ujung Genteng, karena alan menuju kawasan wisata ini bisa dibilang masih jelek. Jadi wajar belum banyak orang mengetahui keindahan kawasan ini.

Mungkin kamu bertanya, bagaimana sih rupa Geopark Ciletuh itu? Dari hasil penelitian dari beberapa ahli geologi, Geopark Ciletuh merupakan salah satu kawasan dengan batuan tertua yang ada di Pulau Jawa. Menurut kabar yang beredar, dulunya sih tempat ini adalah sebuah laut. Jika dilihat dari foto-foto yang ada di Internet, hamparan alam Geopark Ciletuh ini memang unik karena menyerupai amfiteater raksasa yang menghadap ke Samudera Hindia dengan membentuk seperti tapal kuda. Nah, mungkin kamu sekarang jadi penasaran kan.

Saya sendiri pertama kali mendengar nama Geopark Ciletuh sekitar 2 tahun yang lalu. Akan tetapi, baru pada tanggal 31 Januari 2014 bisa berkunjung ke tempat ini. Kami menggunakan One Day One Night Trip, jadi perjalanan di buat sepagi mungkin agar bisa tepat waktu menuju beberapa tempat lokasi yang kami tuju. Bahkan semenjak tengah malam, ada beberapa rombongan yang sudah stand by di Terminal Sukabumi. Pada jam 2 dini hari, rombongan langsung di jemput oleh petugas pengelola tempat wisata yaitu seorang sopir yang menggunakan mobil off road landy.

Mobil Offroad yang kami gunakan
wisata.kompasiana.com

Akhirnya kamipun berangkat menembus kegelapan malam dengan menggunakan mobil off road. Kami menggunakan rute via Cibadak yang menuju arah Pelabuhan Ratu, kemudian berbelok ke arah Simpenan, terus menembus sampai kecamatan Ciemas. Saya sendiri duduk paling depan, namun karena kami berangkat masih dalam keadaan gelap gulita, saya pun tidak terlalu mengenali jalan-jalan yang dilewati. Rute-rute di awal perjalanan memang mulus tidak terlalu banyak yang rusak, namun lama kelamaan jalan mulai rusak dan berbelok-belok. Saya yang sedang mengantuk dan mau tidur akhirnya terbangun kembali karena kondisi jalan yang rusak. Selama di perjalanan, saya menemani pak supir mengobrol seputar Geopark Ciletuh. Menurut apa yang disampaikan pak supir, kawasan wisata Geopark Ciletuh ini dikelola oleh Pemda Kabupaten Sukabumi dan PAPSI (Paguyuban Alam Pakidulan SUkabumi) di bawah binaan PT Biofarma. Kawasan ini juga ternyata tengah dikembangkan agar bisa menjadi salah satu tempat wisata di Sukabumi yang banyak menarik para wisatawan luar daerah atau bahkan luar negeri.

Di tengah kegelapan malam mobil terus melaju melewati perkebunan karet, teh dan masih banyak yang lainnya. Jika hari terang, mungkin ini akan menjadi pemandangan yang sangat mengesankan. Sekitar jam 5-an, rombongan memutuskan berhenti sebentar untuk melaksanakan shalat subuh di sebuah mushola kecil. Setelah itu, kamipun melanjutkan perjalanan. Selang setengah jam dari tempat kami menunaikan shalat, terpampang sebuah gerbang yang bertuliskan “Geopark Ciletuh”. Di pagi yang terang itu, kami mampir sebentar di Basecamp Ciletuh untuk beristirahat sejenak. Disana terdapat sekali pajangan poster yang berisi foto-foto serta tulisan mengenai Ciletuh. Tentu, ini membuat kami ingin segera mencapai kawasan itu.

Biasanya butuh waktu sekitar 3-4 hari untuk mengunjungi seluruh kawasan Geopark Ciletuh ini. Namun jika punya waktu yang terbatas, kamu sudah bisa mengunjungi beberapa tempat wisata yang bisa dijangkau cukup dengan satu hari. Salah satu contohnya seperti Curug Awang, Curug Cimarunjung, Curug Sodong, Pantai Palangpang, Panenjoan dan Puncak Drama. Setelah beristirahat, kamipun segera melanjutkan perjalanan menuju lokasi pertama yang akan dikunjungi yaitu Panenjoan. Lokasi ini memang paling dekat dengan gerbang kawasan Geopark Ciletuh. Menurut si supir, Panenjoan sendiri mempunyai arti yaitu tempat melihat. Lokasi ini berada di atas bukit, jadi dari pinggir jalanpun sudah bisa terlihat pemandangan sawah serta lembah hijau yang begitu menakjubkan. Di kejauhan kita bisa melihat Samudera Hindia yang membentang luas. Semua itu dibatasi dengan tebing-tebing yang banyak ditumbuhi dengan pepohonan hijau yang agak melengkung menghadap ke arah laut. Jika kita perhatikan dinding-dinding tebing dengan seksama dari kejauhan, terdapat garis berwarna putih, mungkin itu adalah sebuah curug. Pada waktu itu cuaca sedang mendung, kabut-kabut tipis terlihat bermunculan dari kejaugan di atas puncik bukit. Walaupun demikian, namun tetap saja sangat indah pemandangannya. Mashaa Allah, begitu indah ciptaanmu ini.

Tempat kita melihat di bukit panenjoan
wisata.kompasiana.com
Pemandangan Panenjoan dari sisi yang lainnya
wisata.kompasiana.com
Pemandangan petak sawah dilihat dari atas bukit Panenjoan
wisata.kompasiana.com

Kemudian kami menuju Curug Awang yang letaknya tidak jauh dari Panenjoan. Kami bisa sampai ke Curug Awang setelah ketika sudah melewati pemandangan sawah khas pedesaan serta jalanan berbatu. Sebenarnya dari gerbang curug pun kalau jalanpun dekat, karena dari kejauhan Curug ini sudah dapat terlihat. Curug ini berasal dari aliran Sungai Ciletuh yang membentuk suatu patahan yang membelah bukit. Jadi curug ini bukan berasal dari mata air di puncak bukit. Keunikan dari curug ini yatu dindingnya yang berbentuk seperti patahan tembok yang berwarna coklat. Selain itu, warna airnya pun agak berwarna kecoklatan karena terpengaruhi jenis tanahnya sendiri. Jadi jika ingin minum air curug, sebaiknya kamu tidak melakukannya, kecuali kalau kamu memang berani melakukannya, hehe. Di sisi curug terdapat sebuah terasering yang diatasnya terdapat batu-batu yang sangat besar. Untuk sampai ke curug itu sendiri, kamu bisa melewati jalan pintas yang terdapat pada sela-sela terasering. Namun ketika melewatinya kamu harus sangat berhati-hati karena jalannya yang licin serta kemiringannya yang mencapai 45 derajat. Curug Awang sendiri posisinya itu paling tinggi diantara dua curug lainnya yang alirannya sama-sama berasal dari Sungai Ciletuh, yakni Curug Puncak Manik dan Curug Tengah.

Pemandangan Curug Awang dilihat dari kejauhan
wisata.kompasiana.com
Pemandangan Curug Awang dilihat dari dekat
wisata.kompasiana.com
Pemandangan di sekitar curug awang
wisata.kompasiana.com

Saat itu cuaca lumayan cerah, namun itu cuman beberapa saat hingga akhirnya hujanpun turun. Waktu sudah menunjukkan jam 10 lebih, kami harus bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan menuju Curug Sodong. Saat itu jalanan yang harus dilewati semakin jelek dan menurun. Sekitar setengah jam mobil kami bergoyang mengikuti arus jalanan. Saat itu saya sempat tertidur karena kelelahan, namun itu tidak lama karena mobil kami menari dengan kerasanya mengikuti bentuk jalanan, hehe. Saat melihat ke jalanan, ternyata kami sedang melintasi jalan yang kami lihat tadi di atas Panenjoan. Dan curug yang terlihat di atas Panenjoan tadi kini terlihat lebih dekat dan jelas.

Akhirnya kami sampai di Curug Sodong. Di curug ini terdapat dua aliran yang begitu deras dan dibawahnya ada kolam yang cukup lebar. Dan di atas Curug Sodong nampak aliran curug lain yang tak lain adalah Curug Cikanteh. Sungguh pemandangan menakjubkan yang tak terlupakan.

Curug Sodong (dibawah) dan Curug Cikanteh (diatas) dilihat dari kejauhan
wisata.kompasiana.com

Karena lelah Kami memutuskan untuk istirahat sesaat di sebuah rumah warga yang dekat dengan lokasi. Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke tempat terakhir yaitu Curug Cimarinjung, Pantai Palangpang dan Puncak Darma. Ketiga tempat tersebut berada dalam satu jalur sehingga memudahkan kami. Namun karena waktu yang kami punya juga terbatas, kami memutuskan untuk hanya melewati Pantai Palangpan dan lebih mengutamakan untuk berkunjung ke Puncak Darma dan Curug Cimarinjung. Setelah melewati pantai, nampak terlihat Puncak Darma dari kejauhan, begitupun dengan Curug Cimarinjung.

Akhirnya kami sampai di Curug Cimarinjung, curug ini berwarna kecoklatan dan memiliki ciri khas dua buah batu yang ada di depannya. Selain itu di soso seberangnya terdapat pohon-pohon dengan ranting yang indah. Namun sayangnya jika ingin mengambil gambar yang bagus, kamu harus berjuang ekstra keras menghindari cipratan air yang begitu deras dan bisa membasahi lensa kamera. Selain itu, berhati-hatilah jika bermain di tempat ini, karena air yang ada di sini sudah tercemar limbah air raksa akibat bekas penambangan emas.

Pantai Palangpang dilihat dari kejauhan
wisata.kompasiana.com
Curug Cimarinjung dilihat dari dekat
wisata.kompasiana.com

Setelah puas menikmati Curug Cimarunjing, kemudian perjalanan kami berlanjut menuju tempat terakhir yaitu Puncak Darma yang katanya tempat ini merupakan primadonanya Teluk Ciletuh. Sepanjang jalan, pemandangan yang terlihat tidak jauh beda dengan yang sebelumnya kami sudah lewati. Jembatan Sungai Cimarinjung yang berwarna jingga coklat kami lewati. Dari jembatan itu kami bisa melihat Curug Nyelempet dari kejauhan. Kami pun sebentar lagi akan sampai di Puncak Darma yang terkenal dengan panorama alamnya yang indah. Dan akhirnya kami sampai di Puncak Darma, ternyata memang benar pemandangannya begitu menakjubkan. Sungguh beruntung sekali kami bisa berkunjung ke tempat ini, kelelahan selama perjalananpun terbayar sudah. Sungguh perjalanan yang sangat mengesankan dan tak terlupakan.

Jembatan Cimarinjung yang sudah mulai rusak
wisata.kompasiana.com
Aliran Sungai Cimarinjung yang berwarna coklat jingga ditimpa cahaya sore
wisata.kompasiana.com
Curug Nyelempet terlihat dari jembatan cimarinjung
wisata.kompasiana.com
Pemandangan di sekitar Puncak Darma
wisata.kompasiana.com
Menun ggu Senja di Teluk Ciletuh
wisata.kompasiana.com

Semoga tulisan singkat ini tentang Geopark Ciletuh bermanfaat. Salam.

Sumber utama : wisata.kompasiana.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *